Hukum Otopsi

HUKUM OTOPSI
Dalam masalah ini tentunya kita harus meneliti beberapa permasalahan, diantaranya :
1. Adanya dalil-dalil yang menerangkan akan haramnya darah seorang muslim, dan wajib bagi seorang muslim memuliakan muslim yang lain, baik muslim yang masih hidup atau sudah meninggal.
2. Beberapa macam mutilasi dilihat dari tujuannya.
3. Mengemukakan perkataan para ulama yang membolehkan otopsi dalam keadaan darurat.
4. Kemudian membandingkan antara perkataan yang membolehkan dan yang melarang.



Pertama…
Ada banyak hadits dan perkataan ulama’ yang menyatakan haramnya darah seorang muslim (untuk ditumpahkan), sebagaimana berbincangan Rosululloh dengan para sahabat ketika haji wada’
Rosululloh bersabda “Apakah kalian tau hari apa ini?”
Para sahabat menjawab “Alloh dan Rosul-Nya lebih tau”
Rosululloh bersabda lagi “bukankah ini hari nahr (iedul adha)?
“betul ya Rosululloh” jawab para sahabat
Rosululloh bersabda lagi “ bulan apa ini?”
“Alloh dan RosulNya lebih tau” jawab para sahabat untuk sekian kalinya
Rosululloh bersabda “bukankah ini bulan dzul Hijjah?”
Lagi lagi para sahabat hanya menjawab “Betul ya Rosululloh”
Lalu Rosululloh bertanya lagi “negri apakah ini ?”
Para sahabat menjawab “Alloh dan Rosul-Nya lebih tau”
“Bukankah ini negri Harom” Tanya Rosululloh kembali
Para sahabat menjawab “betul ya Rosululloh”
Lalu Rosululloh bersabda :
فان دماءكم و اموالكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا فى شهركم هذا فى بلدكم هذا إلى يوم تلقون ربكم الا بلغت؟؟
Lalu para sahabat menjawab : betul ya Rosululloh….
Lalu Rosululloh bersabda lagi :
اللهم اشهد, فليبلغ الشاهد الغائب فربّ مبالغ اوعى من سامع فلا ترجوا بعدى كفارا يضرب بعضكم رقاب بعض
Dan pada kesempatan yang lain Rosululloh bersabda :
من قتل معاهدا فى غير كنهه حرّم الله عليه الجنة
Kedua….
Pembagian otopsi ditinjau dari tujuannya :
a. Orang melakukan otopsi untuk mengetahui sebab matinya seseorang lantaran tindak kriminal.
b. Orang melakukan otopsi untuk mengetahui sebab matinya seseorang lantaran penyakit yang dideritanya, agar tidak menyebar ke masyarakat yang lain.
c. Orang melakukan otopsi sebagai pembelajaran dalam mengetahui susunan tubuh manusia, hal yang ketiga ini biasanya dilakukan oleh sekolah-sekolah kedokteran.
Perlu digaris bawahi bahwa saya sebutkan pembagian diatas bukan bermaksud untuk memperdalam apa itu otopsi, melainkan sebagai pemberitahuan tujuan-tujuan manusia dalam melakukan otopsi.
• Bagaimana jika seorang wanita hamil meniggal dunia sedangkan didalam perutnya ada bayi yang masih hidup??
Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat, tapi imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ “jika seorang wanita meniggal dunia, sedang diperutnya ada janin maka hendaknya perutnya dibedah dan dikeluarkan janinnya” hal ini dengan catatan adanya dhon yang kuat bahwa janin tersebut hidup dan bisa diselamatkan.
Maka kesimpulannya ada dua point :
- Jika diyakini bahwa janin itu masih bisa diselamatkan maka wajib membelah perut si mayit dan mengeluarkan janinnya.
- Jika tidak yakin maka ada tiga cara
a. Tidak membelahnya dan tidak dikubur sampai dapat dipastikan bahwa janin tersebut sudah mati (ini yang rojih)
b. Membelahnya dan mengeluarkan janinnya.
c. Menjatuhi perutnya dengan sesuatu hinga janin itu bisa dipastikan sudah meninggal dan ini adalah pendapat yang salah.
Jika ada sesorang yang semasa hidupnya pernah menelan uang/harta, lalu bagaimana jika ia meninggal??
- Tidak boleh membelah perutnya jika uang yang ada dalam perutnya itu jumlahnya sedikit, namun jika banyak, maka boleh membelahnya untuk menjaga harta agar tidak hilang, namun jika harta tersebut bukan miliknya maka cukup bagi orang yang memilikinya untuk mengikhlaskannya. Jika harta yang ditelannya itu berupa barang yang diperoleh dari hasil ghosob, maka ada dua cara :
1. Tidak membelahnya, dan cukup mengganti rugi dari barang yang dighosobnya.
2. Membelahnya jika harta yang dighosob berjumlah banyak untuk menjaga bahaya dengan mengembalikan harta kepada pemiliknya.
Bagaimana hokum memakan mayat seorang muslim dalam keadaan darurat, misalkan seseorang tidak mendapatkan makanan kecuali mayat seorang muslim, dan jika dia tidak makan dia akan mati??
- Menurut dalil-dalil yang sohih kita harus memuliakan seorang muslim, baik semasa hidupnya atau ketika sudah meninggal, sehingga kita tidak boleh memakan dagingnya baik semasa orang itu hidup atau ketika sudah meninggal walaupun itu akan menyebabkan dirinya celaka (meninggal), namun pada lain kesempatan Rosululloh solallohu alaihi wa salam juga memerintahkan pada umatnya untuk selalu menjaga diri, sehingga Rosululloh solallohu alaihi wa salam membolehkan umatnya memakan bangkai, darah dan daging babi dalam keadaan darurat, bahkan beliau mewajibkan umatnya untuk memakannya jika dikhawatirkan ia akan meninggal jika tidak memakannya, ini tentu dua hal yang berbeda, antara pendapat pertama yang melarang dan pendapat kedua yang membolehkan bahkan mewajibkan. Ibnu Rusd berkata, “yang benar, mayat manusia itu tidak najis, kemudian berkata lagi, maka mayat manusia itu bukan bangkai, tidak kotor dan bukan najis, sesungguhnya larangan untuk memakannya itu sebagai sebuah pemuliaan terhadap manusia bukan karena najis, hal ini bisa dilihat ketika manusia itu masih hidup, maka kita juga dilarang untuk memakannya, maka yang rojih disini adalah “SEORANG MUSLIM BOLEH MEMAKAN MAYAT ORANG LAIN DALAM KEADAAN SANGAT DARURAT, DAN DIA TIDAK MENDAPATKAN MAKANAN LAGI SELAIN MAYAT”

Lalu dengan masalah dibawah ini
1. Apakah boleh memindahkan mata mayat kepada orang yang masih hidup?
2. Apakah hokum memindahkan bagian dari tubuh seseorang yang masih hidup kedalam tubuh orang lain ?
Jawabannya adalah :
Berdasarkan kaidah ushul
إذا تعارضت مصلحتان قدم أقواهما وأذا تعارضت مفسدتان ارتكب أخفهما
jika dengan jika maslahat yang ditimbulkan dari perbuatan itu lebih besar dari pada mafsadatnya, maka perbuatan tersebut dibolehkan, namun jika sebaliknya, hukumnya tidak boleh. Hal ini dengan catatan tidak menimbulkan bahaya bagi orang pertama (pemberi), jika adanya pengambilan organ tubuh dari orang pertama malah menyebabkan orang pertama sakit hukumnya tidak boleh, sebagaimana kaidah ushul :
الضرر لا يزال بالضرر
Kesimpulannya :
Otopsi ditinjau dari tujuannya ada tiga macam :
a. Orang melakukan otopsi untuk mengetahui sebab matinya seseorang lantaran tindak kriminal.
b. Orang melakukan otopsi untuk mengetahui sebab matinya seseorang lantaran penyakit yang dideritanya, agar tidak menyebar ke masyarakat yang lain.
c. Orang melakukan otopsi sebagai pembelajaran dalam mengetahui susunan tubuh manusia, hal yang ketiga ini biasanya dilakukan oleh sekolah-sekolah kedokteran.
Dua point pertama jelas hukumnya boleh berdasarkan kaidah kaidah yang ada dan perkataan banyak ulama, sedangkan point yang ketiga boleh juga untuk ilmu pengetahuan, sebagaimana yang terdapat dalam banyak majalah kesehatan. Sekali lagi semuanya itu harus menimbang antara maslahat dan madhorot, jika maslahat yang ditimbulkan lebih besar dari pada madhorotnya, maka hukumnya boleh-boleh saja, namun jika sebaliknya, hukumnya menjadi tidak boleh.

والله اعلم .....
Oleh : imron Rosyadi
Diambil dari buku “majalah buhuts islamiyah” atau fatawa lajnah da’imah




2 komentar:

Zh!nTho 31 Oktober 2011 19.09  

kere abis nih blog

errozz 11 Desember 2011 01.35  

jazakumulloh mas....

Poskan Komentar

Temukan Saya

daftar isi

bloofers

Photobucket

Total Pageviews

link exchenge

ASSALAMU ALAIKUM SALAM UKHUWAH DARI ANA......

Blogroll

SILAHKAN ISI SARAN KRITIK DI SAMPING "OPEN CHAT"

Man Ana?

saya adalah orang islam yang bangga dengan keislaman saya.. jadi saya katakan "SAKSIKANLAH BAHWA SAYA ADALAH SEORANG MUSLIM" saya mencintai orang islam walaupun mungkin saya tidak lebih baik dari mereka, dan saya memusuhi orang kafir... cinta saya karena Alloh dan permusuhan saya juga karena Alloh... tidak ada yang saya harapkan kecuali ridho Alloh.... meninggal di jalan Alloh adalah cita cita saya tertinggi.... Al-qur'an adalah kitab suci saya yang mengatur seluruh aspek kehidupan, jadi barang siapa yang menoak ahukum Al-qur'an berarti telah menyatakan diri sebagai musuh saya.....

Blogger news

follow me . .

share

Pages

klick ya....!

View My Stats

Popular Posts

back