Mu'amalah Dengan Non Muslim


I.    PENGANTAR.
Puji dan syukur kita haturkan kepada Allah Subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan kepada kita berbagai nikmat, taufik, serta hidayah, terutama  nikmat iman dan islam. Selanjutnya shalawat dan salam juga semoga tertujukan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang telah menyampaikan wahyu Ilahy yang suci lagi authentic keberadaannya sampai akhir zaman dengan segala pengorbanannya.

Allah Subhanahu wata’ala beserta Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan kepada umat manusia untuk selalu menjaga eksistensi ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala kapanpun serta dimanapun umat manusia berada, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,
 (( وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ ))
“Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Eksistensi tersebut akan selalu berjalan normal jika semua kebutuhan batiniyah berupa keimanan dan ketaqwaan, serta kebutuhan lahiriyah berupa kebutuhan ekonomi yang primer dan sekunder terpenuhi.
Untuk masalah ekonomi ini Allah Subhanahu wata’ala pun telah mewajibkannya dalam firman-Nya,
))وَابْتَغِ فِيْمَا أَتَا كَ الله ُالدَّارَ الأَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيَْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لايحب المفسدين ((
“Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan,  janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
    Menurut Al-Qurthuby yang di maksud (( وَابْتَغِ فِيْمَا أَتَا كَ الله ُالدَّارَ الأَخِرَةَ )) adalah gunakanlah apa yang dianugerahkan Alloh Subhanahu wata'ala kepadamu untuk mencapai darul akhiroh yaitu jannah. Sedang dalam menafsiri potongan ayat selanjutnya (( وَلاَ تَنْسَ نَصِيَْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا )) Al-Qurthuby menggunakan atsar shahabat Umar bin Khatab Radliyallahu 'anhu “Bersunguh-sungguhlah dalam mencari dunia seakan-akan kamu hidup selama-lamanya, dan beramallah kamu untuk akherat seakan-akan mati besok hari.”
Namun pada zaman sekarang yang notabene umat Islam hidup tanpa ada naungan suatu kekhilafahan Islamiyah yang pada akhirnya mengharuskan umat Islam dalam mencukupi kebutuhan ekonominya banyak melibatkan kalangan non muslim. Dan insya Allah di sini kami akan membahas tentang keterlibatannya kalangan non muslim dengan umat Islam dalam usaha mencukupi kebutuhan ekonominya secara tinjauan syari’ dengan satu pembahasan berjudul “Mu’amalah Dengan Non Muslim Dalam Bidang Ekonomi”.
Dan sebelumnya tak lupa kami mengharap ampunan Ilahy dan permintaan maaf kepada siapa saja, jika di dalam makalah ini banyak kehilafan. Selanjutnya kami berharap apa yang ada pada makalah ini mendapatkan ridlo Ilahy serta mampu memberikan manfaat bagi kita dan bagi semua kaum muslimin di manapun berada. Amin.

II. DEVINISI.
    II.1. Mu’amalah.
    II.1.1. Secara bahasa.
Kata مُعَامَلَةٌ  berasal dari kata عَامَلَ- يُعامَلُ yang mengikuti wazan فَاعَلَ- يُفَاعِلُ yang di dalam bahasa arab mempunyai faedah لِلْمُشَارَكَةِ bermakna bersyerikatnya dua orang atau lebih dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Namun sebelum dipaparkan devinisi mu’amalah secara bahasa, perlu diketahui bahwa di sini akan disampaikan arti kata  مُعَامَلَةٌ  dan bentuk jama’nya مُعَامَلَاتٌ  secara terpisah. Ini dikarenakan  dalam beberapa kamus kedua kata tersebut disebutkan secara terpisah, sehingga di sini kedua kata tersebut juga kami sebutkan secara terpisah pula.
ٍٍٍٍ    Sedang menurut Ash-Shoghony  kataمُعَامَلَةٌ  bagi penduduk ‘Iraq adalah suatu persekutuan dalam pertanian dalam bahasa penduduk Hijaz .
             Kemudian menurut Ahmad Zuhdi Muhdlor kata  مُعَامَلَةٌatauمُعَامَلَاتٌ  bermakna transaksi (bisnis).
          Sedangkan menurut Ahmad Warson Munawwir kata مُعَامَلَةٌ bermakna hubungan kepentingan; seperti jual beli, sewa, dan yang sejenisnya.

    II.1.2. Secara istilah.
 Kata  مُعَامَلَةٌadalah istilah hukum syar’i yang berhubungan dengan urusan dunia; seperti urusan perdagangan, jual beli, dan peniagaan.
Sedangkan menurut pengarang kamus Al-Munjidمُعَامَلَاتٌ  bermakna hukum-hukum syar’i yang mengatur urusan dunia menurut kondisi seseorang; seperti urusan perdagangan, jual beli, dan perniagaan.
Kemudian di dalam kamus kontemporer kata مُعَامَلَةٌ atauمُعَامَلَاتٌ  secara istilah adalah hukum syar’i yang mengatur hubungan antar individu.
                   
   II.2. Ekonomi.
   II.2.1. Ekonomi secara bahasa.
Ekonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu “oicos” dan “nomos” yang berarti rumah dan nomos yang berarti aturan. Dan di dalam bahasa arab dikenal dengan kata iqtishod yaitu mengambil jalan tengah (tidak kikir dan juga tidak boros) di dalam menggunakan harta di dunia.”

    II.2.2. Ekonomi secara istilah.
Ekonomi adalah aturan-aturan untuk menyelenggarakan kebutuhan hidup manusia dalam berumah tangga, baik dalam rumah tangga rakyat (volkshuishouding) maupun dalam rumah tangga negara (staatshuishouding).
Sedang menurut ekonom muslim Sulaiman, ekonomi adalah salah satu ilmu sosial yang bertujuan menerangkan cara-cara menghasilkan, mengedarkan, membagi, dan memakai barang dan jasa dalam masyarakat. Dan juga bagaimana cara memperkembangkan cara-cara tersebut agar produksi semakin tumbuh, sirkulasi semakin mudah dan distribusi semakin baik hingga kebutuhan-kebutuhan materi masyarakat bisa terpenuhi sebaik-baiknya, baik sekarang maupun di masa yang akan datang.
Kemudian seorang ekonom muslim lainnya menyatakan bahwa ekonomi Islam adalah suatu teori yang dilaksanakan untuk  mencapai kebahagiaan hidup manusia dengan cara mengorganisasikan sumberdaya di bumi atas dasar gotong royong dan partisipasi. 

III. MU’AMALAH DENGAN NON MUSLIM DALAM BIDANG EKONOMI   MENURUT SYAREAT.
      III.1. Dalil Al-Qur’an.
o    Al-Mumtahanah: 8
(( لاَيَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ )) 
Artinya: ”Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi agamamu dan tidak mengusir kamu dari negerimu, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.”
    Imam Al-Qurthubi dalam Jami’ul Bayan-nya mengatakan bahwa di dalam ayat di atas terdapat tiga point penting, yaitu:
    Dalam ayat ini Allah memberikan rukhsoh (dispensasi) kepada kaum mu’min untuk melakukan hubungan mu’amalah dengan kaum kufar yang tidak memusuhi dan memerangi mereka.
    (( أَن )) pada ayat tersebut berkedudukan sebagai jer karena badal (pengganti) dari isim mausul (( الَّذِينَ )) sebelumnya, sehingga yang di maksud dengan orang-orang yang tidak memerangi dari ayat di atas adalah kabilah Khuza’ah yang pada saat itu mengadakan perjanjian damai untuk tidak memerangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan tidak akan memberi bantuan kepada pihak-pihak tertentu yang hendak memerangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka dengan munculnya perjanjian damai tersebut Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk berbuat baik kepada mereka dan menepati perjanjian damai tersebut sampai batas akhir berlakunya perjanjian damai tersebut. Kemudian maksud dari potongan ayat (( َتُقْسِطُوا )) adalah berikanlah hak mereka kepada mereka dari hasil mu’amalah dengan kalian. Dan maksud dari potongan ayat tadi bukanlah perintah untuk berbuat adil, karena berbuat adil adalah wajib diberikan kepada semua orang, baik itu yang memerangi ataupun yang tidak memerangi. Hal ini adalah penjelasan dari Ibnul ‘Arabi.
    Kemudian Qodhi Abu Bakar juga mengomentari ayat di atas dalam kitab al-Ahkamnya, “Sebagian orang menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang wajibnya seorang anak yang muslim untuk memberi nafkah kepada ayahnya yang non muslim. Tapi ini adalah suatu kesalahan yang besar. Karena izin meninggalkan sesuatu yang telah dilarang itu tidak berarti kita wajib melakukannya, tapi kita hanya memperoleh hukum mubah untuk melakukannya. Dan telah kami ceritakan bahwa suatu ketika Ismail bin Ishaq memuliakan seorang kafir dzimmi yang datang kepadanya, maka orang-orang yang berada di sekelilingnya memperhatikan dengan nada protes. Kemudian Ismail bin Ishaq pun membaca ayat ke delapan dari surat al-Mumtahanah.” 
Kemudian Ath Thobari dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa para ahli tafsir telah berbeda pendapat dalam menafsiri ayat ini, dan berikut adalah beberapa pendapat tersebut:
    Kelompok pertama menafsiri bahwa yang di maksud dengan orang-orang yang tidak memerangi dan juga tidak memusuhi adalah orang mu’min Makkah yang belum hijrah, dan Allah Subhanahu wata’ala mengizinkan orang mu’min yang telah hijrah untuk berbuat baik kepada orang mu’min Makkah yang belum hijrah. Ini adalah pendapat Mujahid.
    Kelompok kedua menafsiri bahwa yang di maksud dengan orang-orang yang tidak memerangi dan tidak memusuhi adalah orang non muslim selain orang non muslim Makkah. Yang berpendapat seperti ini adalah Abdulloh bin Mubarok.
    Kelompok ketiga menafsiri bahwa yang di maksud dengan orang-orang yang tidak memerangi dan tidak memusuhi adalah kaum musyrik Makkah yang tidak memerangi kaum muslimin dan tidak mengusir kaum muslimin dari Makkah. Akan tetapi Allah Subhanahu wata’ala telah menaskh atau tidak memberlakukan ayat di atas dan mengganti dengan ayat kelima dari surat At-Taubah yang bunyinya:
فَإِذَا انْسَلَخَ  اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُم )) ((
“Apabila sudah habis bulan-bulan haram, maka bunuhlah orang-orang musyrikin yang kamu jumpai”. Ini adalah pendapat Ibnu Ziyad dan Qotadah.
Dan dari ketiga pendapat di atas Imam ath-Thobary menjama’kannya bahwa yang di maksud dengan ayat di atas adalah kita diperbolehkan berbuat baik dan menjalin hubungan mu’amalah dengan mereka, serta  memberikan harta yang menjadi hak mereka. Dan yang di maksud dengan orang-orang yang tidak memerangi dan tidak memusuhi itu bukan hanya kaum kufar yang ada di Makkah, tapi semua kaum kufar yang ada, termasuk orang non muslim yang masih punya hubungan saudara. Tapi hubungan mu’amalah itu bisa menjadi tidak boleh jika kaum non muslim tersebut melakukan kegiatan-kegiatan yang merugikan umat Islam beserta agama Islam. 
Kemudian Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya juga menafsiri bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak melarang kaum muslimin berbuat baik terhadap orang-orang yang tidak menampakkan kebencian kepada kalian, tidak ikut andil dalam mengusir kalian, dan orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama kalian seperti wanita dan orang-orang yang lemah dari mereka. ((  أَن تَبَرُّوهُمْ)) maksudnya adalah hendaklah kalian berbuat baik kepada mereka, sedang (( وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ )) maksudnya adalah hendaklah kalian berbuat adil kepada mereka.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Asma binti Abi Bakar  Radliyallahu 'anhu, ia berkata, “ Telah datang ibuku yang masih musyrik ketika kaum Quraisy mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin,maka aku datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka aku berkata, “ Wahai Rasulullah sesungguhnya ibuku telah datang  kepadaku dan ia sangat rindu, apakah saya boleh menemuinya ?”  Rasullullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Temuilah ibumu.” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad).

      III.2. Dalil Al-Hadis.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُوْدِيٍّ إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيْدٍ. ( رواه البخاري ).
Artinya : Dari ‘Aisyah  Radliyallahu 'anha, sesungguhnya Rasululah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Rasululah membeli makanan kepada orang Yahudi dari hasil gadaian baju besinya.”
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَاقَالَتْ اِشْتَرَى رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنْ يَهُوْدِيٍّ طَعَامًا نَسِيْئَةٍ ٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ. ( رواه البخاري ).
Artinya: Telah berkata ‘Aisyah Radliyallahu 'anha, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah membeli gandum kepada seorang Yahudi dan sekaligus menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi tersebut.”  
    Hadis pertama di atas tertera pada bab“Syirau an-nabi shallallahu 'alaihi wasallam bi an-nasyiah” , bab “Syirau al-imam al-hawaij bi nafsihi” , bab “ Syirau ath-thoam ‘ila ajal” , bab “ Alkafiil fi as-salam” , bab “Ar-Rahnu fi as-salam” , bab “Man isytara bi ad-dayni wa layasa ‘indahu stamanahu au laysa bi hadratihi” , bab “Man rahana dir’ahu” , bab”Ar-rahnu ‘inda al-yahudi wa ghairihim” , bab “Ma qyla fi diri an-nabi shallallahu 'alaihi wasallam wa al-qomisi fi al-harbi” , dan juga tertera di hadis ke 4468  tapi tidak tertera babnya.
    Dari berbagai hadis di atas yang semua lafadznya dan maknanya hampir sama, Imam Ibnu Hajar al-Asqolany mensyarahnya dengan pernyataan bahwa kesemua hadis tersebut menunjukkan bolehnya bermu’amalah dalam bidang ekonomi dengan selain orang Islam.

       III. 3. Pendapat para ‘ulama.
Suatu ketika Ibnu Taimiyah ditanya oleh seseorang tentang hukum bermu’amalah dengan orang Tartar yang saat itu sedang memerangi umat Islam. Maka beliau menjawab , “Bahwasanya bermu’amalah dengan orang Tartar itu boleh sebagaimana diperbolehkannya bermu’amalah dengan orang yang serupa dengan mereka (non muslim). Maka dibolehkan bagi seorang muslim menjual kain tenun Tarkaman, tenunan Arab, tenunan Kurdi, kuda, pakaian, dan makanan, serta barang-barang lain yang dimiliki seorang muslim. Dan bolehnya menjual barang-barang kepada mereka itu juga diperbolehkan kepada orang non muslim selain mereka. Akan tetapi kalau hubungan mu’amalah tersebut itu menguntungkan mereka dan merugikan umat Islam; seperti menjual senjata kepada mereka yang digunakan untuk memerangi kaum muslimin, maka ini tidak boleh. Ini sebagaimana ayat:
  ((  وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ))
“Dan saling tolong-menolonglah dalam kebaikan dan janganlah saling tolong-menolong dalam kejelekan” .”
Kemudian hal senada juga disampaikan DR. Ibrahim bin Muhamad bin Abdullah al-Buraikan di dalam Al-Madkhal li Diraasat al-Aqidah al-Islamiyyah  'ala Madzhabi Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah. Di dalam kitabnya tersebut beliau menyatakan bahwa sikap permusuhan terhadap orang kafir yang terungkap dalam konsep al-bara' tidak berarti bahwa kaum muslimin boleh bersikap buruk terhadap mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Kebencian itu juga tidak boleh mencegah kaum muslimin untuk melakukan apa yang menjadi hak-hak mereka, menerima kesaksian-kesaksian sebagian mereka atas sebagian yang lain, serta berbuat baik terhadap mereka. Pernyataan ini beliau keluarkan dengan berdasarkan pada surat Al-Mumtahanah ayat 8. Lalu DR. al-Buraikan melanjutkan bahwa hukum ini berlaku untuk orang kafir yang mempunyai perjanjian damai dan jaminan pengamanan dari kaum muslimin dan tidak berlaku bagi orang kafir yang berstatus ahlul harb (orang yang boleh diperangi). Dengan demikian, jelaslah bahwa muamalah yang baik dengan orang kafir adalah suatu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dan diperintahkan oleh syariat Islam. Adapun yang diharamkan adalah mendukung dan menolong orang kafir untuk kekufuran. Pengharaman ini dapat menyebabkan pelanggarnya sampai kepada kekufuran sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala ,
((  وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُم))
 "Barangsiapa yang menjadikan mereka pemimpin, maka  dia itu dari (golongan) mereka" .
    Sedangkan DR.Yusuf al-Qordhowi melarang kaum muslimin bermu’amalah dengan orang non muslim, baik yang memerangi umat Islam ataupun yang tidak. Beliau berdalil dengan ayat  (( وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْض ))  “Dan orang-orang non muslim itu yang sebagian menjadi pelindung bagi yang lain” .
    Dan di sini perlu kami sampaikan sebuah kaedah ushul fiqh:
*   اَلاَصلُ فِي العِيَادَةِ اَلتَّحرِيمِ وَ الَاصلُ ِفي غِيرِهَا الاِبَاحَة *
“Hukum asal dari ibadah adalah haram dan  selain ibadah adalah mubah”. Maksud dari kaedah di atas adalah bahwa pada asalnya hukum semua peribadatan adalah haram, kecuali jika ada dalil yang menyebabkan hukum yang haram tersebut berubah. Sebagai contoh adalah dikarenakan ada ayat berbunyi,
(( وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ))
”Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu menyekutukannya dengan sesuatupun.”  Maka keharaman beribadah berubah menjadi wajib adanya. Sebaliknya asal hukum semua amalan selain ibadah adalah mubah, kecuali jika ada dalil yang menyebabkan hukum mubah tersebut berubah. Sebagai contoh adalah hukum jual beli yang pada asalnya adalah boleh, dan hukum ini tidak akan berubah sampai ada dalil yang menyebabkan hukum boleh itu berubah, seperti jual beli barang haram atau jual beli dengan non muslim yang memusuhi dan memerangi kaum muslimin. Maka hukum jual belipun menjadi haram.
IV. APLIKASI MU’AMALAH DALAM BIDANG EKONOMI.
      IV.1. Pada masa salaf.
    Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya Radliyallahu 'anhum pada zamannya telah mengadakan Mu’amalah dalam bidang ekonomi. Dan di bawah ini akan kami sampaikan beberapa contoh sejarah dari bermu’amalahnya para salaf dengan kaum kufar:
    Sebelum wafat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menggadaikan baju besinya kepada seorang yahudi, dan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menggunakan uang hasil gadai tersebut untuk membeli gandum.
    Banyak para shahabat seperti Abu Bakar Radliyallahu 'anhu, Utsman Radliyallahu 'anhu, dan yang lainnya menggabungkan kafilah dagang mereka dengan kafilah dagangnya para saudagar Quraisy ketika mengadakan perjalanan dagang keluar Mekkah.
    Sebagian shahabat masih menjadi pekerja atau budak dari para konglomerat Quraisy, padahal mereka telah masuk Islam.
    Shahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf ketika hijrah ke Medinah minta untuk ditunjukkan pasar di Madinah, agar beliau bisa berniaga. Maka oleh para shahabat Anshor beliau ditunjukkan pasar Bani Qaniuqa, padahal Bani Qaniuqa adalah salah satu bani dari bangsa Yahudi Madinah.
    Suatu ketika seorang muslimah arab disingkap ujung bajunya oleh orang Yahudi di sebuah pasar Bani Qaniuqa. Hal ini menunjukkan bahwa para ibu rumah tangga muslimah pada zaman salaf  juga berbelanja atau mu’amalah di pasarnya kaum Yahudi.
    Kaum muslimin pada masa Madinah hidup berdampingan, sehingga otomatis kaum muslimin pun mengadakan mu’amalah di bidang ekonomi terutama perdagangan.
    Shahabat Utsman bin Affan menginfakkan kafilah dagangnya yang terdiri dari dua ratus onta lengkap dengan barang-barangnya yang diangkutnya dan juga dua ratus uqiyah, padahal sedianya kafilah dagang yang lengkap tersebut hendak dikirim ke kota Syam yang saat itu masih menjadi negeri non muslim.
    Kaum muslimin pada masa Ibnu Taimiyah melakukan perdagangan dengan orang-orang Tartar yang tidak ikut memusuhi umat Islam, padahal bangsa Tartar pada saat itu adalah bangsa non muslim yang sedang memusuhi umat.
    Ketika diadakan “Perjanjian Hudaibiyah” ada seorang muslim Makkah yang bernama Abu Bashir melarikan diri ke Madinah, namun Rasullullah menolaknya karena ini melanggar salah satu pasal dari “Perjanjian Hudaibiyah”.  Kemudian Abu Bashir dikembalikan ke Mekkah dengan dikawal dua orang kafir Quraisy, tetapi di tengah perjalanan Abu Bashir lolos dari kawalan tersebut. Setelah lolos Abu Bashir melarikan diri ke sebuah pinggiran pantai yang terletak antara Makkah dan Syam, kemudian tindakannya tersebut diikuti oleh para kaum muslimin yang masih berada di Makkah. Dan di sini Abu Bashir dan kaum muslimin lainnya melakukan aksi perampokan kepada setiap kafilah dagang Quraisy ke Syam yang melewati tempat tersebut. Yang pada akhirnya aksi-aksi Abu Bashir dan kaum muslimin lainnya tersebut mengakibatkan stabilitas perekonomian kaum kafir Quraisy di Makkah saat itu tergoncang.     
    Ketika terjadi pelarangan dari Allah Ta’ala terhadap kaum musyrikin  untuk berada di Makkah pada 9 Hijriyah dengan turunnya ayat,
 ((يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسُُ فَلاَيَقْرَبُوا الْمَسْجِدَالْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا  )) “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka jangan mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini”  kaum muslimin merasa resah karena kaum musyrikin Makkah adalah pemegang kendali perekonomian di Makkah pada saat itu. Kemudian keresahan kaum muslimin saat itu mendapat teguran dari Allah Ta’ala dengan menurunkan lanjutan ayat ke dua puluh delapan dari surat at-Taubah di atas,
 (( وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَآءَ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ حَكِيمُُ )) “Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaankepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendakinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. 
IV.2. Pada zaman sekarang.
     Jika pada zaman salaf yang notabene keimanan dan ketaqwaan menjadi jiwa kehidupan para salaf saja telah bermu’amalah dalam bidang ekonomi dengan kaum non muslim.  Apalagi sekarang yang kredibilitas keimanan dan ketaqwaan telah berada jauh di bawah mereka  Radliyallahu 'anhum, ditambah lagi kaum muslimin sekarang hidup tanpa adanya sebuah kekholifahan yang pada akhirnya mau tidak mau, sengaja ataupun tidak sengaja pasti bermu’amalah dengan kaum non muslim. Dan di bawah ini adalah sebagian dari contoh aplikasi mu’amalah dalam bidang ekonomi dengan kaum non muslim:
    Seorang mujahid di Maluku keluar dari kotanya untuk membeli logistik berupa bahan makanan, sedangkan para penjual yang ada beragama Kristen.
    Banyak dari kaum muslimin yang bekerja di perusahaan non Islam atau perusahaan yang dimiliki oleh non muslim.
    Banyak dari kaum muslimin yang mengonsumsi barang-barang produk kaum non muslim.
    Sebagian umat Islam memboikot barang-barang produk Yahudi. Ini dikarenakan bangsa Yahudi menjajah bangsa Palestina yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Dan ini sesuai dengan fatwa DR. Yusuf al-Qordhowi yang menyatakan bahwa setiap barang produk Yahudi yang dibeli oleh umat islam berarti sama juga menyumbang satu peluru kepada bangsa Yahudi untuk membantai kaum muslimin di Palestina.

V. KESIMPULAN.
    Di atas telah dipaparkan segala tentang Mu’amalah dalam bidang ekonomi dengan orang non muslim. Dan dalil Qur’an dan  Sunnah pun telah memberi rambu hijau kepada kaum muslimin untuk melakukan mu’amalah dalam bidang ekonomi dengan non muslim, namun dengan syarat golongan non muslim tersebut tidak memusuhi ataupun memerangi kaum muslimin.
    Tapi ternyata di kalangan ‘ulama terdapat perbedaan pendapat. Di satu pihak Ibnu Taimiyah membolehkan kaum muslimin bermu’amalah dalam bidang ekonomi dengan non muslim dengan syarat hubungan mu’amalah tersebut tidak membawa kerugian bagi kaum muslimin. Namun di pihak lain DR. Yusuf al-Qardhawi melarang kaum muslimin melakukan mu’amalah dalam bidang ekonomi dengan non muslim serta kaum muslimin harus memboikot semua produk non muslim, karena semua non muslim itu adalah sama, baik yang memerangi kaum muslimin ataupun yang tidak. Kemudian Dr. Al-Buraikan mengambil jalan tengah dengan pernyataan bahwa kaum muslimin boleh bermu’amalah dalam bidang ekonomi dengan kalangan non muslim yang mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin, tapi beliau melarang kaum muslimin bermu’amalah dalam bidang ekonomi dengan kaum kafir harbi.Dan dari perbedaan pendapat dalam masalah ini dan berbekal kaedah ushul “Hukum asal dari ibadah adalah haram dan  selain ibadah adalah mubah” di atas, maka kami mengambil suatu istimbat hukum (kesimpulan hukum) bahwa kita boleh mu’amalah dengan non muslim dalam bidang ekonomi dengan syarat:
1.    Orang atau kelompok non muslim tersebut tidak memusuhi dan tidak memerangi umat Islam dimanapun juga, sebagaimana penjelasan di bab ketiga.
2.    Barang-barang produk non muslim yang kita konsumsi adalah benar-benar kita butuhkan dan kita tak kan mampu mencari penggantinya; seperti: obat-obatan, alat telekomunikasi (hand phone, telepon,d.l.l.), alat elektronik (komputer, tape, radio, d.l.l.), alat transportasi (mobil, motor, d.l.l.), dan barang-barang lainnya yang kita umat Islam tidak mampu memproduksinya sendiri.
3.    Seseorang yang bekerja di perusahaan non muslim tidak mampu mencari tempat mencari nafkah yang lain.
4.    Mu’amalah dalam bidang ekonomi dengan non muslim adalah solusi terakhir dan tidak ada kemampuan untuk meninggalkannya untuk mencari solusi lain.
5.    Mu’amalah dalam bidang ekonomi dengan non muslim terjadi bukan dikarenakan kaum muslimin bermalas-malasan dalam mencari hubungan mu’amalah dengan sesama muslim. Wallahu’alambishshowab.

VI. PENUTUP.
    Demikianlah pembahasan mu’amalah dalam bidang ekonomi dengan non muslim menurut tinjauan syari’ yang tentunya masih ada kesalahan dan kekurangannya. Dan kami minta ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meminta maaf atas kesalahan dan kekurangan tersebut. Kemudian kami berharap apa yang ada dalam makalah ini bermanfaat bagi kita, perjuangan kita, dan tentunya bagi umat Islam dimanapun berada. Amin.


VII. REFERENSI
1.    Al-Qur’an dan Terjemahannya. Departemen Agama R.I.
2.    Al-Qurtubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Anshory. Al-Jami’ Lil-Ahkamil Qur’an. Juz: XVIII.
3.    Idem. Juz: XIII.
4.    Ath-Thobary, Ibnu Jarir. Jami’ul Bayan. Darul Fikri. Juz: XVIII.
5.    Ibnu Katsir. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim. Al-Maktabah Al-Adhoriyah. Beirut. Juz: IV.
6.    Idem. Juz: II. 
7.    Al-‘Ashqolany, Ahmad Bin Ali bin Hajar. Fathul Bary Bisyarhi Shohih Al-Bukhory. Darul Fikri. Beirut-Lebanon. Th. 1420 H. /2000  M. Juz: V.
8.    Idem. Juz: VI.
9.    Idem. Juz: VII.
10.    Taimiyah, Ibnu. Majmu’ Fatawa. Juz: XXIX.
11.    Katsir, Ibnu. Al-Bidayah Wan Nihayah. Darul Ma’rifah. Beirut-Lebanon. Juz: V-VI.
12.    Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyurrahman. Ar-Rahikul Makhtum (Sirah Nabawiyah). Pustaka Al-Kautsar. Jakarta. Cet. I. Th. 1997.
13.    Al-Buraikan,DR. Ibrahim bin Muhamad bin Abdullah. Al-Madkhal li Diraasat al-Aqidah al-Islamiyyah  'ala Madzhabi Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah. 
14.    Al-Gholayainy, Musthofa. Jami’ud Durus Al-‘Arabiyah. Al-Maktabah Al-‘Ashriyah. Beirut-Shoyda. Th. 1984. Juz: I.
15.    Al-Asyqor, D.R. Muhammad Sulaiman. Al-Wadhih Ushulul Fiqhi Lil Mubtadiin. Cet. 3.
16.    Al-Afriqy Al-Mishry, Abul Fadli Jamaluddin Muhammad bin Mukrom ibnu Mundzor. Lisanul arab. Darul Fikri. Juz XI.
17.    Al-Maqry, ‘Alim Al-‘Alamah Ahmad bin Muhammmad bin Ali Al Fayumi. Al Misbah Al Munir. Maktabah Libanon, Cet. 2, Th. 1987.
18.    Yusuf Qordhowi. DR. Fatwa-Fatwa Mutahir. Yayasan Al-Hamidy. Jakarta. Cet. 3. Dzulhijjah 1416 H./April 1996. Juz: II.
19.    Muhdlori, Ahmad Zuhdi. Kamus Kontemporer. Yayasan Ali Maksum. Th.1418 H/1997M.
20.    Munawwir, Ahmad Warson. Al-Munawwir Qamus Arab Indonesia. Pustaka Progresif. Cet. 14. Th. 1997 M.
21.    Ibrohim Mustofa, Ahmad Hasan Az-Ziyad, Hamid Abdul Qadir, Muhammad Ali Najar. Al-M’ujamul Wasith. Maktabah  Al-Islamiyah Istanbul Turki. Cet . 2.
22.    Ma’luf, Lois. Al-Munjid fil Lughoh. Darul Masyriq. Cet. 2. Th. 1973 H.
23.    Luthfi Hamidi, Muhammad. Jejak-Jejak Ekonomi Syari’ah. Senayan Abadi Publishing. Cet I. Mei 2003.
24.    Rafiq Yunus Al-Mishry, Doktor. Ushul Iqtishod Al-Islamy. Darul Qolam. Damsyiq.
25.    Nazih Hamad, Doktor. Mu’jam Al-Mustholah Al-Iqtishidiyah fi Lughotil Fuqoha’. al-M’ahad al-‘Aly Lil Fiqri al-Islamy.  Maryland, Amerika Serikat.
26.    Sulaiman, Thahir Abdul Muhsin. Menanggulangi Krisis Ekonomi Secara Islam. P.T. Al-Ma’arif. Bandung.
27.    Dawam Raharjo, Muhammad. Islam dan Transformasi Sosial Ekonomi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Cet I. 1999 M.


0 komentar:

Poskan Komentar

Temukan Saya

daftar isi

bloofers

Photobucket

Total Pageviews

link exchenge

ASSALAMU ALAIKUM SALAM UKHUWAH DARI ANA......

Blogroll

SILAHKAN ISI SARAN KRITIK DI SAMPING "OPEN CHAT"

Man Ana?

saya adalah orang islam yang bangga dengan keislaman saya.. jadi saya katakan "SAKSIKANLAH BAHWA SAYA ADALAH SEORANG MUSLIM" saya mencintai orang islam walaupun mungkin saya tidak lebih baik dari mereka, dan saya memusuhi orang kafir... cinta saya karena Alloh dan permusuhan saya juga karena Alloh... tidak ada yang saya harapkan kecuali ridho Alloh.... meninggal di jalan Alloh adalah cita cita saya tertinggi.... Al-qur'an adalah kitab suci saya yang mengatur seluruh aspek kehidupan, jadi barang siapa yang menoak ahukum Al-qur'an berarti telah menyatakan diri sebagai musuh saya.....

Blogger news

follow me . .

share

Pages

klick ya....!

View My Stats

Popular Posts

back