HUKUM AZL


HUKUM MELAKUKAN ‘AZL bagi kaum laki-laki DAN KB bagi kaum wanita MENURUT SYARI’AT ISLAM

Oleh: Mahasiswa Ma’had Aly An-Nuur

@    Pengertian Azl
a.      Secara bahasa :
Ibnu Mandzur berkata :
A’zlu Asy-Syai’u عزل الشيء)) artinya, “Menyingkirkan sesuatu kesamping, maka ia menjadi tersingkir”.
Az’lu Anil Mar’ah (عزل عن المرأة), “Ia tidak menginginkan anak darinya”.
Dalam hadits disebutkan, bahwa seorang dari Anshor bertanya kepada Rosulullah r tentang Azl, yaitu : “Menyingkirkan air mani dari farji seorang wanita (istri), agar ia tidak hamil”.
Al-Azhary berkata : “Azl adalah seseorang menyingkirkan air maninya dari farji budaknya, agar ia tidak hamil”.[1]
b.      Secara Syar’I :
Ibnu Qudamah berkata : “Azl adalah seorang laki-laki mencabut kemaluannya dari farji istrinya, ketika telah dekat keluarnya mani (ejakulasi), kemudian ia mengeluarkan maninya di luar farji istrinya.[2]
Imam An-Nawawi berkata : “Azl adalah seorang laki-laki meyetubuhi istrinya, dan apabila air mani (telah dekat) untuk keluar (ejakulasi), maka ia mencabut kemaluannya dari farji istrinya, dan menumpahkan maninya di luar rahim.[3]

@    Diantara Hadits-Hadits Yang Menerangkan Tentang Azl

عن جابر قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : إن لي جارية هي خادمتنا وسانيتنا، أطوف عليها وأنا أكره أن تحمل ؟ قال : [ اعزل عنها إن شئت، فإنها سيأتيها ما قدرلها ] فلبث الرجل، فقال : إن الجارية قد حبلت، فقال : [ قد أخبرتك أنه سيأتيها ما قدر لها]

Dari Jabir ia berkata : “Telah datang seorang laki-laki kepada Rosulullah r lalu ia berlata : “Sesungguhnya saya memiliki seorang budak, dimana ia adalah pembantu dan pekerja kami, saya menggaulinya dan saya tidak ingin bila ia hamil ? maka Rosulullah r bersabda : “Bila kamu mau lakukanlah Azl terhadapnya, karena akan datang kepadanya apa-apa yang telah ditakdirkan baginya”. Lalu laki-laki itu diam, kemudian ia berkata : “Sesungguhnya budak tersebut telah hamil”, maka Rosulullah r bersabda “Telah aku kabarkan kepadamu, bahwa akan datang kepadanya apa-apa yang telah ditaqdirkan baginya”.[4]

عن أبي محيريز أنه قال : دخلت المسجد، فرأيت أبا سعيد الخدري، فجلست إليه فسألته عن العزل، قال : أبو سعيد : خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في غزوة بني المصطلق، فأصبنا سبيا من سبي العرب، فاشتهينا النساء واشتدت علينا العزبة وأحببنا العزل، فقلنا : نعزل ورسول الله صلى الله عليه وسلم بين أظهرنا قبل أن نسأله، فسألناه عن ذلك، فقال : [ ما عليكم أن لا تفعلوا، ما من نسمة كا ئنة إلى يوم القيامة إلا وهي كائنة]
Dari Abu Muhairiz ia berkata : “Aku masuk kedalam masjid, maka aku mendapatkan Abu Said Al-Khudry didalamnya, lalu aku duduk mendekat kepadanya, maka aku tanyakan kepadanya tentang Azl, maka ia berkata : “Kami telah keluar bersama Rosulullah r dalam peperangan Bani Mustholiq, dan kami menawan tawanan dari tawanan-tawanan arab. Lalu kami mengiginkan wanita, karena kami jauh dari istri-istri kami. Sedangkan kami suka melakukan Azl, dan kami ingin melakukannya. Maka kami berkata : “Kami melakukan Azl sedangkan Rosulullah r berada ditengah-tengah kami, sebelum kami bertanya kepadanya tentang hal itu (hukum Azl). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah r tentang Azl, maka ia bersabda : “Mengapa kalian tidak melakukannya, karena tidak ada satu jiwa pun yang telah ditaqdirkan hingga hari kiamat, pasti ia akan terjadi”. [5]

روي عن عبد الرحمن بن حرملة، عن ابن مسعود : كان نبي الله صلى الله عليه وسلم  يكره عشر خصال : الصفرة يعني الخلوق وتغيير الشيب وجر الإزار والتختم بالذهب والتبرج بالزينة لغير محلها والضرب بالكعاب والرقى إلا بالمعوذات وعقد التمائم وعزل الماء عن محله وفساد الصبي غير محرمه
Diriwayatkan dari Abdurrohman bin Harmalah, dari Ibnu Mas’ud, adalah Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membenci sepuluh hal, yaitu : Ash-Shufroh yaitu Al-Kholuq, merubah uban, menjulurkan kain, bercincin dengan emas, bertabarruj dengan perhiasan tidak pada tempatnya, menghentakkan kaki, meruqyah kecuali dengan ayat-ayat mu’awwidzat, menggantungkan tamimah (zimat), melakukan Azl, dan merusak anak kecil, dan itu tidak diharamkan.[6]

عن عائشة، عن جذامة بنت وهب أخت عكاشة قالت : حضرت رسول الله صلى الله عليه وسلم في أناس وهو يقول : [ لقد هممت أن أنهى عن الغيلة، فنظرت في الروم وفارس، فإذا هم يغيلون أولادهم فلا يضرهم ذلك شيئا] ثم سألوه عن العزل ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ ذلك الوأد الخفي] زاد عبيد الله في حديثه عن المقرئ وهي : [ وإذا الموؤودة سئلت]
Dari Aisyah, dari Judzamah binti Wahb, saudari perempuan ‘Ukasyah ia berkata : “Aku mendapatkan Rosulullah r berada ditengah-tengah manusia, ketika itu ia sedang bersabda : “Sungguh aku berkeinginan untuk melarang perbuatan ghiilah, namun tatkala aku melihat orang-orang Romawi dan Persia melakukan ghiilah terhadap anak-anak mereka, ternyata hal itu tidaklah membahayakan sedikitpun terhadap anak-anak mereka”.
Lalu mereka bertanya tentang Azl, maka Rosulullah r bersabda : “Ia adalah pembunuhan tersembunyi”.
Ubaidullah menambahkan dalam haditsnya, dari Muqri, yaitu : “Dan apabila diperiksa (ditanya) anak-anak perempuan yang ditanam hidup-hidup”.[7]

عن جابر قال : قلنا : يا رسول الله صلى الله عليه وسلم إنا كنا نعزل، فزعمت اليهود أنه الموؤودة الصغرى، فقال : [ كذبت اليهود، إن الله إذا أراد أن يخلقه لم يمنعه ]
Dari Jabir ia berkata : “Kami berkata, wahai Rosulullah r sesungguhnya kami melakukan Azl, maka orang-orang Yahudi berkata : bahwa ia adalah pembunuhan tersembunyi, maka Rosulullah r bersabda : “Telah berdusta orang-orang Yahudi, sesungguhnya Allah bila menginginkan untuk menciptakannya, maka tidak yang menghalanginya.[8]

@    Pendapat Para Ulama’ Tentang Hukum Azl

Imam Al-Baghawi berkata : “Para Ahlul Ilmi berbeda pendapat tentang makruhnya hukum Azl, dimana dibolehkannya seseorang melakukan Azl oleh lebih dari seorang Shahabat maupun para Tabi’in. Jabir bin Abdullah berkata : “Kami melakukan Azl, padahal ayat Al-Qur’an masih turun”. Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, bahwa Jabir berkata : “Andaikan Azl itu dilarang, tentulah ada ayat Al-Qur’an yang turun untuk melarangnya”. Begitu pula Zaid bin Tsabit membolehkan seseorang melakukan Azl. Dan diriwayatkan dari Abu Ayyub, Saad bin Abi Waqqas, dan Ibnu Abbas bahwa mereka melakukan Azl.
Namun sabahagian Shahabat dan Tabi’in, membenci perbuatan Azl tersebut, dimana telah diriwayatkan bahwasanya Rosulullah r pernah ditanya tentang Azl, maka beliau bersabda :
ذلك الوأد الخفي
Artinya : “Ia adalah pembunuhan tersembunyi”. [9]
Dan diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwasanya beliau tidak pernah melakukan Azl. Imam Malik berkata : “Tidak boleh melakukan Azl terhadap wanita (istri) yang merdeka, kecuali seizin darinya, dan tidak boleh melakukan Azl terhadap seorang istri yang masih budak, kecuali seizin dari keluarganya, dan dibolehkan melakukan Azl terhadap seorang budak tanpa seizin darinya”. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata : “Wanita (istri) yang merdeka dimintai izin, ketika ingin melakukan Azl terhadapnya, dan tidak minta izin apabila terhadap budaknya.[10]
Imam An-Nawawi menyebutkan sebuah riwayat yang bersumber dari Abu Said Al-Khudry, ia berkata :

ذكر العزل عند النبي صلى الله عليه وسلم، فقال : [ وماذا بكم ؟ ] قالوا : الرجل تكون له المرأة ترضع فيصيب منها ويكره أن تحمل منه، والرجل تكون له الأمة فيصيب منها ويكره أن تحمل منه، قال صلى الله عليه وسلم : [ فلا عليكم أن لا تفعلوا ذاكم، فإن هو القدر ]
Artinya : “Azl disebut-sebut disisi Rosulullah r  maka belia bersabda : “Apa yang terjadi dengan kalian ? “. Maka para Shahabat menjawab : Ada seorang laki-laki memiliki istri yang sedang menyusui,lalu ia menyetubuhinya, dan ia tidak ingin istrinya hamil dari persetubuhan tersebut, dan seorang laki-laki yang memiliki budak wanita, lalu ia menyetubuhinya, dan ia tidak menginginkan budak wanitanya hamil dari persetubuhan tersebut, maka Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Tidak apa-apa kalian untuk melakukannya, karena ia adalah merupakan urusan taqdir”.[11]

Lalu Imam An-Nawawi berkata: “Dalam hadits ini menunjukkan bahwa sebab dilakukannya Azl itu ada dua, yaitu :
  1. Tidak menginginkan lahirnya seorang anak dari seoarang budak wanita, karena ingin menjaga harga diri, maupun karena khawatir (tidak lakunya) budak wanita tersebut bila dijual, apa bila telah menjadi seorang ibu.
  2. Tidak menginginkan lahirnya seorang anak dari istri yang sedang hamil, karena membahayakan anak yang disusui.[12]
Maka jika maksud dari melakukan Azl tersebut adalah karena takut lahirnya seorang anak, maka hal itu tidak ada manfaatnya, karena bila Allah telah mentaqdirkan penciptaan anak tersebut, maka sekali-kali Azl tersebut tidak akan mampu menghalanginya. Bisa jadi air mani tersebut telah masuk tanfa disadari oleh orang yang melakukan Azl tersebut, lalu ia menjadi segumpal darah, kemudian ia menjadi seorang anak, dan tidak ada yang bisa menolak apa-apa yang telah ditaqdirkan oleh Allah.
Dan dikatakan juga, bahwa sebab dilakukannya Azl adalah takut akan banyaknya anggota keluarga, sedangkan ia adalah seorang yang miskin. Dan ia membenci kemiskinan tersebut dan agar anak tidak menghalanginya dalam menghasilkan rezeki, maka hal itu tidaklah mempengaruhi taqdir sedikitpun.[13]
Ibnu Abdill Barr berkata: “Tidak ada khilaf dikalangan Ulama’ bahwa sanya tidaklah Azl dilakukan terhadap istri yang merdeka melainkan seizin darinya, karena jima’ adalah haknya dan baginya apa yang dihasilkan dari jima’ tersebut”. Namun dikalangan Syafi’iyyah terjadi perbadaan yang sangan masyhur. Al-Ghozali berkata: “Dibolehkannya Azl”, dan yang lainnya berkata : “Jika istri tidak menginginkannya, maka hal itu (Azl) tidak boleh dilakukan, adapun bila ia ridho, maka ada dua pendapat, dan pendapat yang rojih adalah yang membolehkannya.[14]
Kesimpulannya, Imam An-Nawawi berkata: “Melakukan Azl diluar farj ketika bersetubuh adalah makruh, berdasarkan hadits yang bersumber dari Judzamah binti Wahb : “itu adalah pembunuhan tersembunyi”. Adapun melakukan Azl terhadap budak wanita tidaklah diharamkan, dan dibolehkan tanfa seizin darinya, karena jima’ adalah hak baginya (bagi seorang tuan yang memiliki budak tersebut) namun bukan hak budak wanita tersebut, dan karena dalam Azl tersebut (sarana) yang menyebabkan ia tetap menjadi budak, sehingga ia tidak menjadi merdeka. Adapun terhadap istri (dari budak) yang tekah merdeka, maka tidak boleh melakukan Azl terhadapnya, kecuali seizin darinya, adapun bila ia tidak mengizinkannya maka ada dua pendapat:
1.      Tidak haram, karena hak istri adalah jima’ bukan inzal (yaitu masuknya air mani kedalam farji istri)
2.      Haram, karena hal itu memutuskan keturunan.
Ibnu Qudamah berkata: “Adapun ‘Azl maka hukumnya adalah makruh, maksudnya yaitu seseorang mencabut kemaluannya dari farji istrinya ketika telah dekat keluar air mani, lalu ia mengeluarkannya diluar farji istrinya.[15]
Adapun tentang hadits yang bersumber dari Jabir, yang berbunyi :

يا رسول الله صلى الله عليه وسلم إنا كنا نعزل، فزعمت اليهود أنه الموؤودة الصغرى، فقال : [ كذبت اليهود، إن الله إذا أراد أن يخلقه لم يمنعه ]
Artinya : “Wahai Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, sesungguhnya kami melakukan Azl, lalu orang-orang Yahudi mengecam bahwa hal itu adalah termasuk pembunuhan kecil, maka Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Telah berdusta orang-orang Yahudi, sesungguhnya Allah bila hendak menciptakannya (anak tersebut), maka tidak ada satu pun yang bisa menghalanginya”.
            Dan hadits yang bersumber dari Judzamah binti Wahb yang berbunyi :

 ثم سألوه عن العزل ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : [ ذلك الوأد الخفي] زاد عبيد الله في حديثه عن المقرئ وهي : [ وإذا الموؤودة سئلت]
Artinya : “Lalu para Shahabat bertanya tentang Azl, maka Rosulullah r bersabda : “Ia adalah pembunuhan tersembunyi”, yaitu :  “Dan ketika ditanya anak-anak perempuan yang ditanam hidup-hidup”.
Dimana dua hadits ini secara dzohir, sepertinya bertentangan dalam maknanya, maka Abul Ula Muhammad bin Abdurrohman Al-Mubarokfury didalam “Tuhfatul Ahwadzi” berkata: “Para Ulama berbeda pendapat dalam menggabungkan dua hadits tersebut, ada sebagian Ulama’ yang menggabungkan (menjama’) dua hadits ini, kemudian berkata: “Bahwa hadits yang bersumber dari Judzamah binti Wahb menunjukkan kepada makruh (tanzih), ini adalah jalan yang ditempuh oleh; Al-Baihaqi. Diantara mereka, ada pula yang mendho’ifkan hadits yang bersumber dari Judzamah tersebut, karena bertentangan dengan riwayat yang lebih banyak jalannya (yaitu hadits yang menunjukkan bolehnya Azl). Diantara mereka, ada pula yang mengatakan bahwa hadits Judzamah adalah mansukh (telah dihapus hukumnya). Ada pula yang mengatakan bahwa hadits yang bersumber dari Judzamah telah tetap keshohihannya, dan mereka mendho’ifkan hadits yang bertentangan (menyelisihi) dengannya, dari segi isnad dan termasuk dalam katagori hadits Idhtirob. Ibnu Hazm merojihkan amal (penetapan) terhadap hadits Judzamah, karena hadits-hadits selainnya menunjukkan bahwa Azl diperbolehkan, sedangkan hadits Judzamah menunjukkan larangan melakukan Azl, maka barang siapa yang membolehkannya setelah dilarang, hendaklah ia mendatangkan bayan (hujjah). Kemudian datang sesudahnya penjelasan yang menyebutkan bahwa hadits Judzamah tidaklah menunjukkan larangan yang shorih (jelas), karena tidaklah lazim (selayaknya) penamaan Rosulullah terhadap perbuatan Azl dengan pembunuhan tersembunyi karena ia menyerupai terhadap anak-anak perempuan yang di tanam hidup-hidup, sebagai bentuk keharaman.
Imam Ibnul Qoyyim menjama’ (menggabungkan) dua hadits ini, kemudian ia berkata : “Adapun yang didustakan oleh Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah dakwaan orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa Azl teresebut menyebabkan istri tidaklah hamil (maka ia seperti pembunuhan kecil), maka Rosulullah mendustakan mereka dan mengabarkan bahwasanya  tidak ada satu pun yang bisa menghalangi kehamilan, bila Allah telah menghendaki penciptaannya, dan bila Allah tidak menghendakinya, maka tidaklah ia menjadi pembunuhan yang hakiki (nyata) sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Arab Quraisy terhadap anak-anak perempuan mereka, akan tetapi ia termasuk pembunuhan tersembunyi sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Judzamah. Karena bila seseorang melakukan Azl, karena takut terjadinya kehamilan, maka didalamnya terdapat tujuan (niat) untuk membunuh, akan tetapi perbedaan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Arab Qurays adalah bahwa pembunuhan yang mereka lakukan adalah jelas, berkumpul didalamnya antara niat (tujuan) dan perbuatan, sedangkan Azl hanya menyangkut dalam masalah niat (tujuan) saja, maka oleh sebab itulah dinamakan dengan pembunuhan tersembunyi. Inilah hasil dari penggabungan (jama’) dua hadits tersebut yang paling kuat, dan disebutkan pula didalam kitab An-Nail. Wallahu A’lam Bishshowab.[16]

@    Di antara Fatwa Ulama’ KONTEMPORER Seputar Hukum KB hari ini
1.  Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Bazz.
Pertanyaan : Apa hukum KB ?
Jawab : Ini adalah permasalahan yang muncul sekarang, dan banyak pertanyaan muncul berkaitan dengan hal ini. Permasalahan ini tekah dipelajari oleh Haiah Kibaril Ulama’ (Lembaga Riset Ulama’ di Saudi) didalam sebuah pertemuan yang telah lewat dan telah ditetapkan keputusan yang ringkasnya adalah tidak boleh mengkonsumsi pil-pil untuk mencegah kehamilan. Karena Allah Ta'ala Subhanahu Wa Ta’ala mensyari’atkan untuk hambaNya sebab-sebab untuk mendapatkan keturunan dan memperbanyak jumlah umat.
Rosulullah r  bersabda :

تزوجوا الولود الودود فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة. وفي رواية : الأنبياء يوم القيامة

Artinya : “Nikahilah wanita yang banyak anak lagi pen yayang , karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kiamat (dalam riwayat yang lain : dengan para nabi di hari kiamat)[17]
Karena umat itu membutuhkan jumlah yang banyak, sehingga mereka beribadah kepada Allah Ta'ala, berjihad di jalanNya, melindungi kaum muslimin dengan izin Allah Ta'ala, dan Allah Ta'ala akan menjaga mereka dari tipu daya musuh-musuh mereka. Maka wajib untuk meninggalkan perkara ini (membatasi kelahiran), tidak membolehkannya dan tidak menggunakannya kecuali darurat. Jika dalam keadaan darurat maka tidak mengapa, seperti :
1.      Sang istri tertimpa penyakit didalam rahimnya atau anggota badan yang lain, sehingga berbahaya jika hamil, maka tidak mengapa (menggunakan pil-pil tersebut) untuk keperluan ini.
2.      Demikian juga, jika sudah memiliki anak banyak, sedangkan istri keberatan jika hamil lagi, maka tidak terlarang mengkonsumsi pil-pil tersebut dalam waktu tertentu, seperti setahun atau dua tahun dalam masa menyusui, sehingga ia merasa ringan untuk kembali hamil, sehingga ia bisa mendidik dengan selayaknya.
Adapun jika penggunaanya dengan maksud dalam berkarir atau supaya hidup senang atau hal-hal lain yang serupa dengan itu, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan wanita zaman sekarang, maka hal ini tidak boleh.[18]
           
2.  Fatwa Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani.
            Beliau berkata secara ringkas didalam “Adabul Zifaf” ketika membahas masalah Azl. Yang lebih utama adalah meniggalkan Azl, hal itu karena beberapa hal :
a.   Menimbulkan madharat pada diri wanita, yaitu berupa hilangnya nikmat dalam persetubuhan.
b.  Menghilangkan sebagian tujuan-tujuan pernikahan, yaitu memperbanyak keturunan umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.
Dan hal ini diisyaratkan oleh Nabi r dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudry :
ذكر العزل عند النبي صلى الله عليه وسلم، فقال : [ ولمايفعل ذلك أحدكم ؟ ولم يقل : فلا يفعل ذلك أحدكم ، فإنه ليست نفس مخلوقة إلا الله خالقها].
Artinya: “Azl disebut-sebut dekat Rosulullah Shallallahu 'alaihi wasallam maka beliau bersabda: “Mengapa salah satu kalian melakukan itu ? Dan beliau tidak bersabda : “Janganlah salah seorang diantara kalian melakukannya”. Karena sesungguhnya tidak ada satu jiwapun yang hendak Allah Ta'ala ciptakan, kecuali Dia akan menciptakannya”. (HR.Bukhari dan Muslim).
Syaikh Al-Albani berkata : “Isyarat ini (yakni hukum makruh) hanya berlaku bagi Azl yang dikenal saat itu. Adapun dizaman sekarang ini telah ditemukan sarana-sarana yang bisa digunakan oleh seorang suami untuk menghalangi air maninya dari istri dengan penghalang yang tidak bisa ditembus, seperti yang disebut vasektomi atau kondom yang diletakkan dipenis saat jima’ dan lain-lain. Maka hadits ini tidak bisa digunakan untuk menolak sarana-sarana ini, akan tetapi dalil yang bisa digunakan untuk sarana-sarana diatas adalah dua perkara yang telah disebutkan diatas (yaitu point a dan b), lebih-lebih perkara kedua (menghilangkan tujuan dari pernikahan), maka renungkanlah!
Akan tetapi makruhnya Azl menurutku jika perbuatan tidak diikuti sesuatu yang lain, yaitu maksud-maksud dari orang-orang kafir dalam melakukan Azl seperti :
a.       Takut miskin karena banyak anak.
b.      Beban pengeluaran yang meningkat.
c.       Biaya pendidikan.



Maka dalam keadaan seperti ini hukum Azl menjadi haram, karena orang tersebut memiliki kesamaan niat dengan niat orang-orang kafir yang membunuh anak-anak karena takut miskin sebagaimana telah ma’lum.
Namun jika si wanita tersebut sakit dan dokter mengkhawatirkan penyakitnya akan semakin parah jika hamil, maka wanita tersebut boleh memakai alat-alat penghalang kehamilan yang bersifat sementara (tidak permanen). Adapun jika penyakitnya berbahaya dan bisa menyebabkan kematian, maka hanya dalam keadaan seperti ini saja di bolehkan, bahkan diwajibkan untuk melaksnakan tubektomi demi kelangsungan wanita. Wallahu A’lam.
3. Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin.
  a. Seorang ikhwan bertanya hukum KB tanfa udzur, dan adakah udzur yang membolehkannya …..  ?
b. Para Ulama telah menegaskan bahwa memutuskan keturunan sama sekali adalah haram, karena hal tersebut bertentangan dengan maksud Nabi mensyari’atkan pernikahan kepada umatnya, dan hal tersebut merupakan salah satu sebab kehinaan kaum muslimin. Karena jika kaum muslimin berjumlah banyak (maka hal itu) akan menimbulkan kemuliaan dan kewibawaan bagi mereka. Karena jumlah umat yang banyak merupakan salah satu nikmat Allah Ta'ala kepada Bani Isroil.

وجعلنا كم أكثر نفيرا

Artinya: “Dan kami jadikan kamu kelompok yang lebih bersar” (Al-Isro’ : 6)

واذكروا إذكنتم قليلا فكثرتم

Artinya: “Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah Ta'ala memperbanyak jumlah kamu”. (Al-A’rof : 86)
Kenyataan pun menguatkan pernyataan diatas, karena umat yang banyak tidak akan membutuhkan umat yang lain, serta memiliki kekuasaan dan kehebatan di depan musuh-musuhnya. Maka seseorang tidak boleh melakukan sebab (usaha) yang memutuskan keturunan sama sekali, kecuali dikarenakan darurat, seperti :
a.       Seorang ibu jika hamil dikhawatirkan akan binasa atau meninggal dunia, maka dalam keadaan seperti inilah yang disebut darurat, dan tidak mengapa jika si wanita melakukan usaha untuk mencegah keturunan. Inilah dia udzur yang membolehkan mencegah keturunan.
b.      Juga seperti wanita tertimpa penyakit dirahimnya, dan di takutkan akan menjalar sehingga akan menyebabkan kematian, sehingga rahimnya harus diangkat, maka tidak mengapa.[19]
4. Fatwa Syaikh Fauzan bin Ali Fauzan.
a. Kapan syara’ membolehkan mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan dengan tujuan untuk menjaga dan memperhatikan pendidikan anak-anaknya yang masih kecil …..?
b. Tidak boleh mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan kecuali karena darurat, dengan adanya ketetapan dari dokter bahwa kehamilan tersebut akan menyebabkan kematian sang ibu. Adapun mengkonsumsi pil-pil penunda kehamilan, maka tidak mengapa jika diperlukan, seperti :
  1. Kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk hamil berturut-turut dalam selang waktu yang dekat, atau
  2. Hamil akan membahayakan anak yang sedang ia susui. Dan pil tersebut tidak menghentikan kehamilan, tetapi hanya menunda kehamilan, maka tidak mengapa sesuai dengan kebutuhan tersebut. Dan hal ini dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter yang ahli dalam masalah ini.[20]
5. Fatwa Lajnah Ad-Daimah.
a. Apa hukum memakai pil-pil pencegah kehamilan untuk wanita-wanita yang sudah bersuami …..?
b. Seorang istri tidak boleh menggunakan pil-pil pencegah kehamilan karena takut banyak anak atau karena harus memberikan tambahan belanja. Tetapi boleh menggunakannya untuk mencegah kehamilan, diantaranya :
  1. Adanya penyakit yang membahayakan jika siistri hamil.
  2. Dia melahirkan dengan cara yang tidak normal bahkan harus melakukan operasi jika melahirkan dan bahaya-bahaya lain yang serupa dengan dengan hal itu.
Maka dalam keadaan seperti ini boleh baginya mengkonsumsi pil pencegah kehamilan, kecuali jika ia mengetahui dari dokter spesialis bahwa mengkonsumsinya membahayakan siwanita dari sisi lain.[21]
6. Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin
a. Bolehkah seorang wanita mengkonsumsi pil pencegah kehamilan untuk mencegah kehamilan selama-lamanya setelah ia melahirkan empat atau lima orang anak?
b. Tidak boleh seorang wanita melakukan hal itu, karena hal itu termasuk membenci pemberian Allah dan menyerupai perbuatan orang-orang musyrik, sebagaimana yang telah Allah larang dalam firman-Nya:
      “Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, kamilah yang memberi rezki kepada kalian dan juga kepada mereka”.
      Adapun jika  sebab melakukan KB tersebut karena penyakit yang diderita oleh siibu tersebut, atau karena ketuaannya (kelemahan fisik badannya) atau ia tidak bisa melahirkan kecuali secara cecar, dan itu dikhawatirkan bahaya terhadap dirinya maka tidak mengapa ia melakukan  KB tersebut dalam waktu tertentu, atau dikhawatirkan berbahaya menurut penjelasan dokter (bila ia hamil) dan mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan itu tidak mendatangkan efek samping bagi dirnya maka tidak mengapa ia mengkonsumsinya.[22]
            Demikianlah diantara fatwa para Ulama’ yang berkaitan dengan hukum-hukum KB yang hari ini banyak dilakukan oleh wanita muslimah dari umat denga alasan-alasan (hujjah) yang tidak sesuai dengan  syari’at Islam.

@    Kesimpulan
Dari penjelasan Azl dan KB yang telah kami paparkan diatas, yang bersumber dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rosulullah serta pendapat para Ulama’ Salaf dan Ulama’ Mu’ashirin di zaman ini, dapat kami simpulkan :
@     Para Ulama’ berbeda pendapat tentang hukum Azl, apakah ia boleh atau makruh. Namun pendapat yang rojih Insya Allah Ta'ala adalah pendapat para Ulama’ yang menyatakan bahwa hukum Azl adalah makruh (bila tidak ada sebab-sebab syar’I yang mendorong  dilakukannya Azl)[23], berdasarkan hadits-hadits yang menunjukkan larangan dalam bentuk tidak shorih, dan juga didalamnya terdapat hal-hal yang merusak dari pada tujuan-tujuan pernikahan (yaitu melahirkankan keturunan).
@     Para Ulama’ sepakat bahwa melakukan ‘Azl bagi seorang laki-laki terhadap istrinya maupun KB bagi seorang wanita untuk menghindari kehamilan, dengan tujuan karena takut untuk memberi rezeki (kehidupan) kepadanya dan khawatir akan miskin atau karena seorang istri ingin mengembangkan karirnya maka ini adalah bentuk keharaman. Dan diperbolehkan melakukan Azl dan KB (bahkan dianjurkan) bila ada darurat yang yang akan membahayakan istri bila ia hamil (sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para Ulama di atas), dengan petunjuk tim medis yang memahami hal itu.
@     Dibolehkannya melakukan KB (non permanen) bagi seorang wanita dengan tujuan untuk menjaga jarak kehamilan, sehingga lebih bisa menjaga kesehatan istri dan anak-anak yang dimilikinya.
@     Wajibnya meminta izin bagi seorang suami terhadap istrinya yang merdeka, jika ingin melakukan ‘Azl terhadapnya. Dan tidak perlu minta izin terhadap budak wanita yang ia miliki.[24]
   Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sungguh telah diharamkan ‘Azl oleh sekelompok Ulama’, tetapi empat Imam Madzhab sepakat akan kebolehan ‘Azl bagi suami dengan seizin si istri”.
@     Adalah dusta, dakwaan orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa ‘Azl adalah bentuk pembunuhan kecil (yaitu menyebabkan istri tidak dapat hamil).
@     Tidak boleh berkeyakinan bahwa ‘Azl adalah penghalang terjadinya kehamilan, karena Allah Ta'ala telah mentaqdirkan setiap sesuatu, dan apa yang telah Allah Ta'ala taqdirkan pasti akan terjadi hingga hari kiamat (karena keyakinan inilah yang diyakini oleh orang-orang Yahudi).
@     Menghalangi terjadinya kehamilan bila hal itu di butuhkan (bahkan dianjurkan karena adanya madharat) tidak sebatas hanya dengan melakukan ‘Azl bagi suami terhadap istrinya, namun dibolehkan menggunakan obat-obat (pil-pil), kondom dan lainnya bila hal itu tidak mendatangkan madhorot bagi siwanita yang memakainya.
Wallahu A’lam Bishshowab.






@    Daftar Pustaka :

1.  Shohih Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari Al-Ja’fi, Darus Salam, Riyadh, Cet I, 1417 H.
2.  Shohih Muslim, Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim  An-  Naisaburi, Darus Salam, Riyadh, Cet I, 1419 H.
3.  Sunan At-Turmudzi, Abu Isa Muhammad bin Isa bin Suroh bin Musa At-Turmudzi, Darus Salam, Riyadh, Cet I, 1420 H.
4.  Sunan Abu Dawud, Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats Al-Jistany Al-Azdy, Darr Ibnu Hazm, Beirut, Cet I, 1419 H.
5.   Musnad Imam Ahmad, Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal, Baitul Afkar, Riyadh, 1419 H.
6   Fathul Baary Syarh Shohih Bukhari, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolany, Daarul Fikr, Beirut, 1420 H.
7.  Shohih Muslim Syarh An-Nawawy, Imam Yahya Syarof An-Nawawy, Darr Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut, Cet I, 1421 H.
8.   Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan At-Turmudzi, Muhammad Abdurrohman bin Abdurrohim Al-Mubarokfury, Daarul Fikr, Beirut, 1415 H.
9.  Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Imam Yahya Syarof An-Nawawy, Daarul Fikr, Beirut, Cet I, 1417 H.
10. Al-Mughny, Al-Hafidz Ibnu hajar Al-Asqolany, Hajr, Cet II, 1412 H.
11. Syarhus Sunnah, Abu Muhammad Al-Husni bin Mas’ud Al-Baghowy, Daarul Fikr, Beirut, 1414 H.
12. Taisirul ‘Alam Syarh Umadatul Ahkam, Abdullah bin Abdurrohman bin Sholih Ali Bassam, Daarul Fikr, Beirut, 1407 H.
13. Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, Ahmad bin Abdurrohman Ad-Duways, Darr Al-Ashimah, Riyadh, Cet III, 1419 H.
14. Al Fatawa Asy Syar’iyyah fie Al Masaaili Ath Thibbiyyah, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, Maktabah Al Maliki Fahd, 1418 H.
15. Majalah As-Sunnah/ Edisi 01/ Tahun V/ 1421 H-2001 M.


[1] Lisanul Arob : XI/ 440-441
[2] Al-Mughni : X/ 227
[3] Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab : XVIII/ 101, Shohih Muslim Syarh An-Nawawi : X/ 9
[4] HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan Al-Baihaqi
[5] HR. Al-Bukhari, Muslim dan Malik
[6] HR. An-Nasa’I, Abu Dawud dan Ahmad
Imam Al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah menjelaskan tentang hadits ini, yaitu : Ash-Shufroh semacam minyak wangi, ada pun yang dimaksud dengan merusak anak kecil adalah Al-Ghiilah.
[7] HR. Muslim.
 ‘Ghiilah adalah menggauli istri yang dalam keadaan menyusui, yang menyebabkan istri hamil dan merusak air susunya’.
[8] HR. At-Turmudzi
[9] HR. Muslim, Abu Dawud, At-Turmudzi dan Ahmad
[10] Syarhus Sunnah : V/ 351-354
[11] HR. Muslim
[12] Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab : XVIII/ 102, Fathul Baari : X/ 384
[13] Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab : XVIII/ 102
[14] Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab : XVIII/ 102
[15] Al-Mughni : X/ 228
[16] Tuhfatul Ahwadzi : IV/ 222-223
[17] Hadits Shohih, diriwayatkan oleh : Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al-Hakim
[18] Fatawa Mar’ah oleh Muhammad Al-Musnad
[19] Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah : II/ 974-975
[20] Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah : II/ 993
[21] Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah : II/ 53
[22] Al Fatawa Asy Syar’iyyah fie Al Masaaili Ath Thibbiyyah: II/ 78
[23] Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi pada hal 5 dan 6.
[24] Taisirul ‘Alam Syarh Umdatil Ahkam : III/ 44

0 komentar:

Poskan Komentar

Temukan Saya

daftar isi

bloofers

Photobucket

Total Pageviews

link exchenge

ASSALAMU ALAIKUM SALAM UKHUWAH DARI ANA......

Blogroll

SILAHKAN ISI SARAN KRITIK DI SAMPING "OPEN CHAT"

Man Ana?

saya adalah orang islam yang bangga dengan keislaman saya.. jadi saya katakan "SAKSIKANLAH BAHWA SAYA ADALAH SEORANG MUSLIM" saya mencintai orang islam walaupun mungkin saya tidak lebih baik dari mereka, dan saya memusuhi orang kafir... cinta saya karena Alloh dan permusuhan saya juga karena Alloh... tidak ada yang saya harapkan kecuali ridho Alloh.... meninggal di jalan Alloh adalah cita cita saya tertinggi.... Al-qur'an adalah kitab suci saya yang mengatur seluruh aspek kehidupan, jadi barang siapa yang menoak ahukum Al-qur'an berarti telah menyatakan diri sebagai musuh saya.....

Blogger news

follow me . .

share

Pages

klick ya....!

View My Stats

Popular Posts

back